Friday, 13 April 2018

Kampung Pelangi Tanjungpinang, Icon Wisata Baru Kota Tanjungpinang



Hy Sobat Melancong Coy di menapun berada. Semoga kita semua dalam keadaan baik dalam segala hal. Salam Melancong Coy Salam Bahagia.

Tau tak Coy, ada yang baru ni dari Ibukota Provinsi Kepualaun Riau ini, dari Kota Tanjungpinang, yaitu ada Kampung Pelangi Coy di Kota Tanjungpinang ini.

Dikutip dari laman Facebook WonderfulTanjung Pinang, dalam waktu dekat ini akan di launcing Kampung Pelangi Tanjungpinang, yang akan menjadi Icon Wisata Baru di Kota Tanjungpinang.

Kampung Pelangi Tanjungpinang ini berlokasi di Kampung Melayu RT 1 RW 3, Kelurahan Melayu Kota Piring. Ini akan hadir menjadi kawasan wisata terpadu, karena selain menyajikan view pemandangan yang sangat colorfull, wisata belanja dan wisata kuliner khas melayu juga akan menjadi destinasi andalan di tempat ini, ditambah dengan berbagai pentas seni kreatif tentunya akan melengkapi keseruan berkunjung di Kampung Pelangi ini.

Dengan nantinya di launcingnya Kampung Pelangi Tanjungpinang ini, maka ini akan menjadi Kampung Pelangi ke 10 yang ada di Indonesia. Yang sebelum - belumnya sudah hadri di 9 kota di Indonesia, yaitu di Kota Semarang, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Medan, Gresik, Balikpapan, Lubuk Linggau dan Banyuwangi.  (sumber:travel.idntimes.com)

Semoga nantinya dngan ada nya Kampung Pelangi di Kota Tanjungpinang ini, akan dapat meningkatkan jumlah wisatawan di Kepulauan Riau, khususnya di Kota Tanjungpinang dan juga meningkatnya perekonomian di Kampung tersebut. 













Sumber poto :  WonderfulTanjung Pinang

Saturday, 7 April 2018

Tips Traveling ke Turkey

TIPS TRAVELING KE TURKEY
Created by Kun Anta




Hy kawan - kawan Melancong Coy Dunia, kali ini ada Tips untuk kawan - kawan yang ingin Traveling ke Turki dari Sobat kita Kun Anta.

Bagi kankawan yang berencana ke Turki, nih ada beberapa informasi yang bisa kami share...

1. Ke Turki harus urus Visa. Bisa VOA ketika tiba di bandara, tapi beresiko kalau ditolak atau ajukan secara online dengan E-Visa, cuma 10 menit kelar. Biaya visa online $25.


2. Tiket PP (Pulang Pergi) termurah itu via Kuala Lumpur. Kalau lagi promo, beberapa maskapai memberi harga super murah. Seperti Saudia yang mematok harga hanya 6 juta PP transit Jeddah. Seperti saya awal April lalu naik Turkish Airlines tanpa transit dapat promo di harga 8.3 juta PP.

3. Turki menerima 3 jenis mata uang. Turkish Lira, Dollar Amerika dan Euro. Kalau mau kesana, bawa saja dikit uang Dollar. Sisanya bisa tarik uang di ATM atau bawa uang rupiah nanti bisa tukar dengan teman sahabat yang stay disana. Kursnya sama dengan di Indonesia, 1 Tl itu 3500 Rupiah.

4. Harga harga di Turki sangat amat murah apalagi di Eminonu dan Grand Bazzar. Bisa khilaf kalau sudah disana. So siapkan bagasi pulang yg lapang yaaa...

5. Makanan di Turki, menurut saya sih gak cocok di lidah... rata2 rasanya asam dan gak nyaman di lidah. Yang bersahabat cuma Kebap dan Burger saja. Tapi ketika disana, harus coba Chocolate Cake khas Turki. Sedap and lumer di lidah. Rasa sambal disana asam. Jadi mending bawa sambal dari Indonesia.

6. Kalau mau makanan Indonesia, pergi ke daerah Merkez Effendi. Posisi restorannya pas di depan stasiun Tram Merkez Effendi. Rasanya super lezat...

7. Suhu udara di Turki, itu menyenangkan. Kalau April suhu rata-rata antara 4° - 11°C. Namun jika ke Cappadoccia jauh lebih panas. Dan kalau ke Bursa itu sangat dingin.

8. Usahakan atur liburan lebih panjang agar bisa keliling Turki. Karena bikin sakit hati kalau ke Turki dengan waktu yg singkat. Gak cukup buat keliling2...

10. Transortasi di Turkey mudah dan murah. Jauh dekat naik Tram dan Bus hanya 2.5 Tl atau sekitar 10 ribu Rupiah. Taxi juga murah namun jangan naik taxi di pangkalan karena ada calo dan harga jadi lebih mahal.

11. Kalau mau pergi ke Bursa lihat salju, pilih naik kapal saja karena lebih murah dan lebih cepat. Kalau naik bus bakalan meleleh di jalan karena jalanan di Turkey macet parah. Dan jika ingin naik balon udara di Cappadoccia, tiket mending beli online. Karena lebih murah daripada on the spot.

12. Penginapan di Turkey murah meriah. Hotel berbintang rate nya mulai dari 300 ribuan. Hostel di Sulthan Ahmet itu jauh lebih murah. Cuma 5 Tl utk dorm room shared room.

13. Kalau belanja, disana rata2 harga sudah fix. Kita cuma bisa menawar sebanyak 1x. Kalau mereka bilang fix maka jangan tawar. Karena kalau ngotot bakalan diusir.

14. Cari kawan di Turkey sebanyak2 nya sebelum kesana, jadi ada temen buat jalan. Karena masyarakat Turkish rata-rata gak bisa berbahasa Inggris. Komunikasi sedikit sulit disana.

Moga bermanfaat dan bisa menjelajah Turki segera. Dan inilah beberpa foto ketika saya di Turki,

Foto ini diambil di depan gerbang masuk Topkapi Palace. Latar dibelakang adalah Hagya Sofya. Dulunya bangunan ini adalah Gereja, lalu berubah menjadi Masjid pada pemerintahan Ottoman Turki. Dan kini bangunan ini menjadi Museum Nasional Turki

Sahabat couchsurfing asal Maroko. Dia bekerja sebagai Public Relation Manager di salah satu clinic kecantikan. Gajinya 8000 euro euy.. dan dia menguasai 6 bahasa di dunia

Tulip di mana-mana di Sulthan Ahmet Park

Kue2 khas dari Turki. Lupa kemarin nama2nya namun sedap.... mudah ditemukan di Egypt Square

Tas tangan imut nan cantik di deretan toko Egypt Market Eminonu Square. Harganya murah euy cuma 40tl atau 150rb doang

mbak Nurul sahabat di Egypt Square

Oleh2 khas Turki. Kacang2an yang menjadi ciri khas di Egypt Market. Harganya mahal sih... Perkilonya diatas 100tl

Ini nih yg unik.. Coklat yang bentuknya seperti batu2an ini rasanya enak banget... perkilonya 120tl atau sekitar 400rb

Buah pomaded asli yang di jus. Mudah ditemukan disepanjang jalan Eminonu Square

Tulip lagi bermekaran di bulan april

Hagya Sofya 

Wednesday, 22 February 2017

Hotel Ibis Budget Asia Afrika, Murah dan Cocok Untuk Backpacker

HOTEL IBIS BUDGET ASIA AFRIKA, MURAH DAN COCOK UNTUK BACKPACKER
Review by Fitriandy Ahmad


Hotel Ibis Budget Asia Afrika Bandung terletak di Jl. Asia Afrika No.128, Paledang, Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat. Dari namanya kita pasti sudah tau, hotel ini memang cocok untuk yang memilki budget pas pasan dan sangat cocok untuk Backpacker yang sedang backpacking ke Kota Bandung. 

Mesti hotel ini memang murah dan di peruntukkan untuk para wisatawan yang memiliki budget minim. Tapi fasilitas dan pelayanan yang di berikan oleh hotel ini tetaplah sangat baik dan sangat bagus. Selain fasilitas dan pelayanannya yang membuat hotel ini selalu rame wisatawan, lokasi hotel ini juga lah yang terletak di Jalan Asia Afrika ini yang sangat strategis dan mudah untuk askes ke berbagai tempat yang membuat selalu ramai.

Harga kamar hotel ini permalam sangatlah murah untuk hotel yang sebagus ini, berkisar dari 350 hingga 450 ribu rupiah tergantung kamar mana yang kita pilih. Hotel ini memiliki interior yang sangat bagus dan keren. Dari lobi, recepsionis, dan kamarnya juga yang memiliki interior yang berbeda dengan hotel hotel lainnya. Hotel ini memiliki 164 kamar. Tiap kamar memiliki dekor berwarna dan kontemporer dan dilengkapi TV LCD 26 ", brankas dalam kamar, kamar mandi dengan pancuran, pengering rambut, dan akses Internet WIFI gratis. Benar benar sangat cocok untuk Backpacker.

Kamar Standar dengan 1 tempat tidur ganda

Kamar Standar dengan 2 tempat tidur single


Kamar Standar dengan 1 tempat tidur doeble dan 1 tempat tidur susun

Lobi

Restoran
Recepsionis

Sumua Poto bersumber dari google.com


Tuesday, 21 February 2017

Stasiun Gambir Jakarta Yang Modern

STASIUN GAMBIR JAKARTA YANG MODERN
Review by Fitriandy Ahmad

Stasiun Gambir (GMR) merupakan salah satu stasiun kereta api terbesar yang ada di Jakarta. Stasiun ini terletak di Gambir, Jakarta Pusat, tepatnya di sebelah timur Monumen Nasional (Monas).

Saya dibuat takjub saat pertama kalinya menginjakkan kaki di Stasiun Gambir ini. Bayangan saya stasiun kereta api itu sangatlah jadul seperti di film film maupun yang sering nongol di tv tv. Tetapi tidak dengan Stasiun Gambir ini. Ini sangat sangatlah sudah modern.

Dari Fasilitasnya saya dapat mengatakan memiliki fasilitas yang lengkap. Dari ruang tunggunya yang nyaman dan bersih, banyak tersedia restoran, terdapat juga shower, loker dan juga terdapat wifi gratis. Bahkan di Stasiun Gambir ini juga terdapat Hotel yang bernama Hotel Rail Transit Suite Gambir. Hotel ini pun memiliki rating bintang 4 dari Traveloka.com.
Hotel Transit Suite Gambir

Yang saya takjub lagi ialah ternyata disini kita chank in tiket dan print bording pass sendiri. Wajar lah saya kan baru pertama kali dengan bigini ginian, makanya saya sedikit takjub dengan sesuatu yang baru.
Check In Counter

Itulah sedikit review dari saya tentang Stasiun Gambir yang Modern ini. Semua poto yang saya gunakan bersumber dari google.com. Terimakasih.


Monday, 20 February 2017

Solo Traveling Ke Bandung

SOLO TRAVELING KE BANDUNG
Created by Fitriandy Ahmad


Solo Traveling menurut saya ialah berjalan sendiri, berpergian sendiri, berwisata sendiri, entahlah apa itu namanya. Dalam artian panjangnya ialah seseorang yang berpergian, yang melakukan perjalanan sendiri, tanpa partner/ teman.

Dari awal saya terjun dan mencintai dunia Traveling beberapa tahun yang lalu, saya selalu memiliki keinginan untuk melakukan Solo Traveling, setidaknya sekali seumur hidup. Dan akhirnya keinginan itu bisa tercapai.

Saya akan berbagi cerita SINGKAT saat saya melakukan Solo Traveling yang PERTAMA kalinya saat ke daerah Bandung (Kota Bandung & Kabupaten Bandung) Jawa Barat, selama 3 hari dari tanggal 17 sampai 19 Februari 2017.


PERSIAPAN
Tidak ada persiapan khusus sama sekali yang saya lakukan saat akan melakukan Solo Traveling yang Perdana ini. Hanya saja saya lebih untuk mempersiapkan mental saya. Begitu banyak pertanyaan dalam otak ini sebelum saya melakukan perjalanan pertama sendiri ini. H-3 sebelum keberangkatan, saya akhirnya bisa menyakinkan diri sendiri ini 100% saya akan Solo Traveling ke Bandung.


H-1
Kamis, 16 Februari 2017. Setelah meminta restu kedua orang tua, akhirnya saya meluncur juga terbang dari Tanjungpinang menuju Jakarta. Kenapa Jakarta ? kok tidak langsung Bandung ?

Karena saya ada pekerjaan yang harus dilaksanankan di Jakarta terlebih dahulu inilah mengapa saya harus mendarat di Jakarta.

Urusan pekerjaan selesai. Dan malam itupun baru saya membooking tiket Kerata Api Indonesia dari Stasiun Gambir Jakarta ke Stasiun Bandung.

Zaman sudah serba teknologi, tidak perlu ribet dalam membeli tiket KAI. Tinggal duduk dihotel sambil menikmati secangkir kopi pun kita bisa membeli tiket KAI. Disini saya membeli dari aplikasi resmi KAI yaitu KAI Access yang bisa di download di Playstore maupun Appstore. Tidak ada kesulitas sama sekali saat pertama kali menggunakan aplikasi ini. Semua fitur yang terdapat dalam aplikasi sangat mudah di pahami dan digunakan. Sistem pembayaran juga sangat mudah, bisa menggunakan Kartu Kredit maupun transfer M-Banking.

Setelah melihat jadwal - jadwal keberangkatannya, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat jam 10.15 wib menggunakan Kereta Argo Parahyangan kelas Eksekutif dengan tarif  120 ribu rupiah . Sekali kali naik kelas Eksekutif boleh donk yaaaa…. Hahahha.


HARI PERTAMA
Jumat, 17 Februari 2017. Dengan bermodal tas ransel ala - ala Backpacker dan tekat yang sudah menggebu - gebu ingin merasakan rasanya Solo Traveling yang perdana ini. Akhirnya jadi juga Perdala Solo Traveling. Akan saya ingat selalu bagaimana rasanya jantung ini berdetak dengan irama yang tidak pernah saya rasakan den dengarkan. Irama yang sangat indah dan merdu, yang hanya bisa saya mengerti sendiri.
Solo Traveling Ke Bandung | MELANCONG COY
Tiker Kereta kelas Eksekutif Gambir - Bandung

Berawal dari Stasiun Gambir Jakarta saya menuju Stasiun Bandung. Dengan estimasi perjalanan 3 jam 30 menit dari berangkat jam 10.15 hingga sampai jam 1 siang lebih. Baca : Review – Stasiun Gambir Jakarta yang Modern. Tidak sia - sia membeli kelas yang Eksekutif, gerbongnya bersih, berAC, ada TV, kursinya empuk, enak dan nyaman. 3 jam 30 menit dalam kereta tidak banyak yang saya lakukan selain menikmati perjalanan, menikmatin indahnya pemandangan selama di kereta. Selama perjalanan, kita akan di suguhkan dengan pemandangan yang tidak pernah terlihat sebelumnya, seperti pedesaan, gunung dan sawah.
Solo Traveling Ke Bandung | MELANCONG COY
Di dalam Kereta Argo Parahyangan

Sesampai di Bandung, di situlah baru saya memesan hotel. Dengan bantuan aplikasi Traveloka yang juga bisa di downoad di Playstore maupun Appstore, setelah beberapa menit mencari hotel yang strategis tempatnya, akhirnya saya putuskan untuk menginap di Hotel Ibis Budget Asia Afrika Bandung. Hotelnya pas di jalan Asia Afria Bandung dan sekitar 1 km menuju Alun – Alun Bandung. Dan hotel yang sangat cocok untuk Backpacker. Baca : Review – Hotel Ibis Budget Asia Afrika Bandung, murah dan cocok untuk Backpacker. Harganya 320 ribu rupiah per malam dengan fasilitas yang sangat bagus dangan kamar yang sangat bersih.

Sesampai di hotel yang bagus ini. Saya langsung istirahat sejenak untuk mengisi tenaga dan membersihkan diri. Bayangan saya ketika ke Bandung ialah cuacanya yang dingin, tapi ternyata Kota Bandung sama saja panasnya kayak di Jakarta mapun di Tanjungpinang.
Hotel Ibis Budget

Setelah badan kembali segar dan tenaga terisi lagi, langsung saya contect salah satu penyedia Jasa Sewa Motor di Bandung. Karena Solo Traveling, berarti saya akan keliling Bandung sendirian, untuk itulah saya menyewa sepeda motor untuk memudahkan akses menuju tempat – tempat yang akan saya tuju nantinya. Saya menyewa motor di Sewa Motor RifTrans Bandung. Biayanya 180 ribu untuk 2 malam 1 hari. Pelayanannya bagus, dari pihak kantor dan mas - mas yang mengantar ke hotel semuanya ramah, motornya pun juga bagus dan enak di gunakan. Baguslah pokoknya.

Karena hari sudah sore dan tidak mungkin untuk pergi ke jauh - jauh tempat. Saya putuskan hari ini cuma sampai ke daerah Cihampelas saja. Dengan bantuan Google Maps dan mental nekad, saya meluncur ke Cihampelas.

Jalanan Kota Bandung sangatlah membingungkan untuk yang pertama pergi seperti saya ini, semua jalannya one way. Dan sempat kesasar beberpa kali hingga akhirnya saya bisa sampai ke daerah Cihampelas ini. Baca juga : Teras Cihampelas, Ikon baru Kota Bandung. Sempat agak lama berbincang dengan pedagang di Teras Cihampelas ini, dari dialah saya sedikit tau tentang Bandung, dia banyak bercerita tentang daerah - daerah di Bandung. Dan dia juga meyakinkan saya bahwa Bandung itu aman, orang - orangnya pada ramah – ramah, mesti datang dan berpergian sendirian disini, Insyaallah aman. Memangsih terbukti, dari beberapa orang yang telah saya temui dari beberapa jam di Bandung, semuanya pada ramah.
Di depan Cihampelas Walk

Seperti caranya saya pergi sampai ke Cihampelas, pulang ke Hotel pun saya juga menggunakan bantuan Google Maps sebagai menujuk arah, yang akurat tapi juga bikin nyasar.
Google Maps Sang Penujuk Jalan
Sesampai di hotel. Disini lah saya baru mencari - cari tentang wisata Bandung. Melihat artikel - artikel, membaca dan memahami lokasi lokasinya. Berhubung saya tidak memiliki banyak waktu, jadi saya hanya bisa pergi kebeberap tempat wisata saja. Dan setelah beberapa artikel saya baca dan analisis lokasinya, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke daerah Utara ke Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Hari Kedua
Sabtu, 18 Februari 2017. Hari kedua, sesuai hasil keputusan rapat plano dengan diri sendiri tadi malam. Yang sebenarnya di hari ini saya rencana bangun jam 4, dan meluncur jam 5 dari hotel ke Tebing Karaton dengan perkiraan 1 jam perjalanan maka jam 6 sampai untuk melihat Sunrise. Tapi apalah daya ternyata tubuh ini bangun janm 5.30 dan jam 6 pagi barulah saya meluncur ke Tebing Karaton, dengan perkiraan 1 jam ternyata karena di daerah pedesaan dan nyasar lagi, akhirnya saya sampai sekitar jam 7.15 menit untuk melihat Sunrise yang ternyata Sunrisenya sudah pergi tak tau kemana.

Mesti perjalanan diwarnai dengan nyasar dan medan yang susah karena masuk di pedesaan. Sangat tidak kecewa setelah berada di tebing ini. Pemandangan alam yang sangat menakjubkan yang tidak pernah saya jumpai dan lihat sebelum - belumnya. Udaranya yang dingin dan bersih, suasananya yang sunyi dan nyaman, juga pemandangan yang indah dan memukau dengan warna hijau pepohonan yang sangat menyegarkan mata ini. Sungguh nyaman berada disini. Cukup lama saya berada disini sekitar 2 jam untuk menikmatin ciptaan Tuhan ini. Baca : Tebing Karaton, Gerbang Surgawi masa lalu, masa kini dan masa depan.
 

Biaya masuk kesini murah hanya 10 ribu rupiah untuk orang, 2 ribu rupiah untuk asuransi dan 5 ribu rupiah untuk motor. Jika bawa kendaran roda dua sendiri, kita bisa membawanya hingga ke depan gerbang. Jika membawa roda 4, kita tidak bisa sampai gerbang, harus parkir di pakiran bawah yang jaraknya sekitar 3-4 km karena jalan yang tidak bisa di lewati oleh roda 4. Dari parkiran hingga ke gerbang, banyak ojek motor yang bisa mengantar kita, dengan biaya 50 ribu untuk pulang pergi dan masih bisa di nego, atau bisa juga berjalan kaki.

***
Setelah sekiranya cukup menikmatin indahnya ciptaan Tuhan ini, saya pun melanjutkan perjalanan untuk melihat ciptaan Tuhan yang lainnya ketempat selanjutnya, yaitu Gunung Tangkuban Perahu.

Tetap saya masih menggunakan Google Maps sebagai penunjuk jalan untuk menuju kesana. Jalan menuju Gunung Tangkuban Perahu tidaklah serumit ke Tebing Karaton. Tidak ada acara nyasar hingga sampai kesana, karena selain jalannya cuma satu, penunjuk arah kesananya jelas dan tidak masuk - masuk ke pedesaan.

Jarak dari Tebing Karaton ke Gunung Tangkuban Perahu ialah 27 km dengan waktu perkiraan 1 jam 25 menit menurut Google Maps. Karena saya baru pertama kali, sekitar 1 jam 40 menit akhirnya saya sampai di Gunung Tangkuban Perahu. Sekitar jam 11 siang saya tiba disana. Biaya karcis masuk ke Wisata Gunung Tangkuban Perahu ialah 30 ribu rupiah untuk Wisatawan Nusantara dan 17 ribu rupiah untuk kendaraan roda dua.

Suhu di Gunung Tangkuban Perahu sangatlah berbeda dengan di Kota Bandung. Mesti jam 11 saya berada disana, tapi suhunya sepeti jam 5 pagi. Sangat dingin, dan mungkin karena baru pertama kesitu, tubuh ini langsung bereaksi tidak beres, langsung flu saya dibuatnya. Sekitar 1 jam saya berada disini, keliling - keliling melihat kawah di gunung dari berbagai sudut. Masuk keluar masuk keluar ke tempat - tempat jual oleh  -oleh yang ada disini. Hingga akhirnya saya menemukan yang saya cari selama ini, yang pernah saya cari juga ketika di Jogja tapi tidak jumpa, yaitu Angklung. Dengan tidak berpikir panjang langsung saja saya beli.
 
Tidak bisa bertahan lama saya disini. Karena ternyata aroma belerangnya semakin siang semakin sangat menyengat dan aromanya tidak bisa di terima oleh indra penciuman saya ini. Baca : Aroma Belerang Gunung Tangkuban Perahu. Kepalapun mulai agak sedikit oleng, saya sempatkan istirahat sebentar dan setelah itu langsung turun gunung untuk melanjutkan ke tempat selanjutnya.
 

***
Tempat selanjutnya ialah menuju ke Farm House Susu Lembang yang berjarak 18 km dari Gunung Tangkuban Perahu menurut Google Maps. Dalam perjalanan kesana kita akan melewati Hutan Pinus dan juga melewati Wisata Hutan Pinus Cikole Lembang. Karena satu jalan, saya pun mampir sebentar masuk ke Wisata Hutan Pinus Cikole. Karcis masuk sini ialah 5 ribu untuk orang dan 2 ribu untuk parkir motor.
Hutan Pinus Cikole Lembang

Tidak lama saya berada disini karena tempatnya yang tidak menggoda saya berada lama lama disini, mungkin sekitar 10 menit saya disini dan saya kembali melanjutkan perjalanan ke Farm House Susu Lembang bersama Google Maps (anggap aja lagi endorse Google Maps, makanya disebut terus. Yaaaaa siapa tau aja kan bisa cepat diterima Google Adsense nya. Hahahhaa).

Sempat mampir sebentar sekitar 30 menit di Indo Mart saat menuju Farm House Susu Lembang hanya untuk numpang mencharge Handphone. Mesti HP ini sudah berkapasitas baterai 4100 mAh, ternyata dengan menghidupkan paket data, GPS, Google Maps dan aplikasi lainnya secara bersamaan dan non stop membuat tidak bertahan lama. Jika handphone ini mati, berarti berakhir sudah perjalanan saya, karena penunjuk jalannya ada di handphone ini. Setelah sekitar 30 menit mencharge dan menurut saya cukup untuk hari ini, saya kembali melanjutnya perjalanan.

***
Sebenarnya saya memilik ekspektasi yang sangat tinggi untuk Farm House Susu Lembang ini. Karena tempat ini terkenal dengan Rumah Hobbitnya. Tetapi selalu saja Realita tidak sesuai Ekspektasi, dan saya benar benar sangat kecewa ketika sudah sampai di sana dan melihat rumah Hobbitnya hanya seperti itu. Gambaran yang ada di kepala saya itu sangat wow dan keren, tapi kenyataannya yaaaa sudahlah, sedih kalau di ceritakan, coba saja datang kesana pasti akan mengerti.
Rumah Hobbit di Farm House Susu Lembang

Biaya masuk ke Farm House Susu Lembang ini 20 ribu rupiah, dan kita akan mendapatkan 1 gelas besar susu sapi asli dari sana. Susunya enak, dan cukuplah untuk menemani keliling daerah situ. Farm House ini ialah seperti rumah peternakan dengan arsitektur ala ala Belanda. Mesti kecewa dengan rumah Hobbitnya, tapi tidak dengan susunya.

Ada pelukis wajah menggunakan pensil di dalam area tersebut. Walaupun kecewa, setidaknya harus ada kenang kenangan dari Farm House Susu Lembang. Saya pun meminta untuk dilukis wajah saya. Saya salut dengan Akang Pelukis yang bernama Rois yang melukis wajah saya. Dia sangat hebat, bayangkan saja melukis wajah saya saja hanya membutuhkan waktu 5 menit sudah selesai, 3 menit untuk melukis pola dan 2 menit untuk finisingnya. Luar biassaaa lah pokoknyaa.
Pelukis 5 menit jadi



***
Sebenarnya ada beberapa tempat lagi yang ingin saya kunjungi di daerah Lembang tersebut yang 1 arah maupun berdekatan lokasinya. Seperti Floating Market, Dusun Bambu, De’ Ranch dan masih banyak lagi lah. Tapi berhubung baterai handhphone yang sudah tinggal 10 persen dan hari sudah mulai sore mesti belum begitu sore, saya pun memilih untuk langsung pulang kembali ke Hotel. Dan tentunya masih ditemani dengan Google Maps.

Setelah sampai di hotel dan istirahat sejenak beberapa jam hingga malam. Barulah saya kembali keluar untuk menikmatin suasana di Kota Bandung, dengan menyusuri Jalan Asia Afrika dengan berjalan kaki. Kalau di Jogja, ini sama seperti di Mallioboro, rame di penuhin orang - orang di daerah Jalan Asia Afrika dan Alun Alun ini. Setelah sekiranya puas berkeliling saya pun kembali ke hotel untuk beristirahat dan menyudai perjalanan di hari kedua ini.
Depan Gedung Merdeka


Hari Ketiga
Minggu, 19 Februari 2017. Tidak ada agenda untuk hari ini selain pulang kembali ke Jakarta dan ke Tanjungpinang kembali. Saya mengambil penerbangan CGK – TNJ jam 17.30. Dan sengaja saya juga mengambil keberangkatan Kereta BD – GMR jam 8.30 agar saya masih punya banyak waktu di Jakarta. 
Stasiun Bandung

Rencananya sih saya ingin mampir dulu di Kota Tua Fatahillah. Tapi lagi lagi rencana tidak susuai. Yang perkiraan Kereta tiba di Gambir jam 12 siang ini menjadi jam 2.30 siang. Yang perkiraan 3 jam 30 menit sampai, ini menjadi 6 jam. Kereta harus berhenti lebih dari 2 jam di Stasiun Cikampek, katanya sih karena sinyal ke pos berikutnya untuk masuk ke jalur berikutnya terputus. Jadi gagal dah saya ke Kota Tua Fatahillah.

Perjalanan saya sendiri yang pertama kalinya, akhirnya di tutup dengan Sunset dari ketinggian 10 ribu kaki dari permukaan air. Karena pesawat take off jam 18.00 jadi pas banget untuk melihat Sunset dari udara.

Sunset di atas ketinggian 10 ribu kaki





“Dan akhirnya saya menyadari, Traveling itu tidak mesti tentang tempat Destinasinya, tetapi juga tentang Perjalanannya” - Fitiandy Ahmad -


Terimakasih Bandung, Kau menyadarkanku bahwa INDONESIA Ini Luar Biassaaa.